HOME

 

Asal Mula Nama Garut

Bupati Adiwijaya bersama perwakilan Belanda mencari tempat yang cocok untuk ibukota kabupaten. Setelah penelusuran,ditemukan satu daerah yang subur dan dikelilingi gunung.

Pada saat menemukan mata air, seorang panitia tangannya terluka diakibatkan kakarut (tergores-red) semak belukar. Perwakilan Belanda tersebut tidak bisa melafalkan kata kakarut dengan jelas dan menyebutkan gagarut. Semenjak peristiwa itulah para panitia menamai tanaman semak belukarnya itu dengan Ki Garut dan telaga dari sumber mata airnya nya dengan nama Ci Garut.

Garut merupakan salah satu kota priangan timur di daerah Jawa Barat dan merupakan salah satu kabupaten yang terletak sekitar 64 km sebelah tenggara Bandung ibu kota Jawa Barat dan sekitar 250 km dari Jakarta. Garut berada pada ketinggian 0 m sampai dengan 2800 meter, berbatasan langsung dengan Samudra Indonesia di sebelah selatan yang memanjang sekitar 90 km garis pantainya. Kabupaten Garut terletak di Provinsi Jawa Barat bagian Selatan pada koordinat 6º56’49” – 7 º45’00” Lintang Selatan dan 107º25’8” – 108º7’30” Bujur Timur.

Kabupaten Garut memiliki luas wilayah administratif sebesar 306.519 Ha (3.065,19 km²) dengan batas-batas sebagai berikut :

Utara               : Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang

Timur               : Kabupaten Tasikmalaya

Selatan            : Samudera Indonesia

Barat               : Kabupaten Bandung dan Kabupaten Cianjur

Kabupaten Garut yang secara geografis berdekatan dengan Kota Bandung sebagai ibukota provinsi Jawa Barat, merupakan daerah penyangga dan hitterland bagi pengembangan wilayah Bandung Raya. Oleh karena itu, Kabupaten Garut mempunyai kedudukan strategis dalam memasok kebutuhan warga Kota dan Kabupaten Bandung sekaligus pula berperan di dalam mengendalikan keseimbangan lingkungan.

7 Fakta Garut

Awal Mula Kota Garut 

  • Limbangan merupakan salah satu daerah yang subur makmur, aman, dan tenteram. Pada masa penyebaran agama Islam di Jawa Barat, Sunan Syarif Hidayatullah menunjuk Raden Widjajakusumah sebagai Bupati pertama Limbangan dan sebagai wakil beliau yang menggantikan Dalem Prabu Liman Sendjaya.
  • 24 Maret 1706, Limbangan dikembalikan statusnya menjadi Kabupaten Limbangan oleh VOC dan menunjuk Rangga Mertasinga sebagai bupatinya.
  • 2 Maret 1811, Kabupaten Limbangan dibubarkan oleh Gubernur Jendral Daendels yang merupakan penguasa tertinggi pemerintah kolonial Belanda. Alasannya adalah karena produksi kopi didaerah tersebut menurun hingga titik terendah serta ada penolakan dari bupat untuk menanam nila.
  • 16 Februari 1813, Gubernur General Raffles melalui surat keputusannya mengembalikan status Limbangan menjadi kabupaten di Keresidenan Priangan, dengan Tumenggung/Adipati Adiwidjaja sebagai Bupati Limbangan.
  • Berkaitan dengan pengembalian status Limbangan menjadi Kabupaten, maka Adipati Adiwidjaja mencari tempat untuk ibu kota kabupaten yang cocok karena Suci wilayahnya sempit dan tidak subur lagi.
  • Beliau membentuk panitia untuk mencari daerah yang cocok untuk ibu kota. Awalnya daerah Cimurah, 3 km timur Suci. Namun daerah tersebut sulit air bersih. Lalu bergeser 5 km ke arah barat Suci, dan menemukan tempat yang cocok sesuai dengan kriteria dan kebutuhan pemerintahan dan masyarakat. Tanah subur, air yang bersih, dan dikelilingi gunung-gunung.
  • 15 September 1813, peletakkan batu pertama pembangunan sarana dan prasarana ibukota, seperti tempat tinggal, pendopo, kantor asisten residen, mesjid, dan alun-alun. Terdapat juga Babancong, tempat bupati berpidato di depan pendopo.
  • Tahun 1889, dibangun stasiun kereta Cibatu untuk menyokong kegiatan pengangkutan hasil perkebunan di Garut dan tempat pemberhentian pejabat Belanda.
  • 14 Agustus 1925, Kabupaten Garut disahkan menjadi daerah otonom oleh Gubernur Jenderal dengan R.A.A Soeria Kartalegawa yang menjadi bupati pertama memimpin Kabupaten Garut.

Kota Garut berhias gunung-gunung yang menjulang, termasuk Gunung Gede (atau Gunung Papandayan), Gunung Guntur dan Gunung Cikuray. Di saat fajar, pemandangan gunung terkesan misterius dengan lingkup kabut yang menebal dan terlihat dari kejauhan. Kala senja di saat matahari berwarna merah dan mulai menghilang di ufuk barat, kesan itu pun muncul kembali.

Pada era 20-an, Garut dikenal sebagai Swiss van Java, karena pesona alamnya yang menakjubkan dengan kontur yang sangat eksotis dan disempurnakan dengan hawa yang sejuk dan bersih. Bukan hal aneh jika Garut yang begitu indah kemudian dijadikan kota wisata oleh seorang Belanda bernama Holke van Garut (seorang gubernur kesayangan pemerintah Belanda pada tahun 1930-1940) dan melihat kabupaten ini berpotensi sehingga dijuluki sebagai ”Switzerland van Java” dan kemudian mendirikan hotel di sana. Di wilayah ini juga pernah didirikan dua hotel yang antara lain bernama Hotel Belvedere dan Hotel Van Hengel.

Bahkan pada pertengahan tahun 1950-an Garut terkenal dengan sebutan Kota Intan. Jarak yang tidak begitu jauh dari Bandung itu, menjadikan kota Garut cukup ramai di kunjungi baik oleh wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Hal ini dapat terlihat dengan cukup padatnya kota ini terutama pada akhir minggu atau musim libur anak sekolah.

Di bagian Utara, Timur, dan Barat didominasi pemandangan hijau dengan kondisi alam berbukit-bukit dan pegunungan. Sedangkan bagian permukaan alam Selatan Kota Garut cenderung berbentuk relatif curam dengan corak alam pantai yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.

Secara garis besar, Garut memiliki iklim tropis basah ( human tropical climate ) dengan klasifikasi iklim Koppen. Faktor iklim dan cuaca Garut ini dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu : (1). Pola sirkulasi angin musiman (monsoonal circulation pattern), (2). Topografi regional yang bergunung-gunung di bagian tengah Jawa Barat; dan (3) Elevasi topografi di Bandung. Curah hujan rata-rata tahunan di sekitar Garut berkisar antara 2.589 mm dengan bulan basah 9 bulan dan bulan kering 3 bulan, sedangkan di sekeliling daerah pegunungan mencapai 3500-4000 mm. Variasi temperatur bulanan berkisar antara 18° C – 26° C.